Mengapa Wanita Harus Memakai Jilbab?

Alasan Mengapa Wanita Harus Berjilbab. Sebelum lebih jauh mengetahui alasan kenapa wanita harus memakai jilbab, mungkin terlebih dahulu kita simak dan mengambil hikmah kisah berikut.

Mr John Parke bertanya: “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh jabat tangan denga pria?” Syaikh menjawab: “Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu Elizabeth? Lelaki Inggris menjawab: “oh tentu tidak bisa! cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan ratu”, Syaikh tersenyum dan berkata: “Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) adalah para ratu, dan ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya)”, lalu lelaki Inggris bertanya lagi, “Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?”, Syekh tersenyum dan punya dua permen, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. Dia melemparkan keduanya ke lantai yang kotor. Syaikh bertanya: “Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?”, Lelaki Inggris menjawab: “Yang tertutup”, Syeikh berkata: “itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami”. SubhanAllah bahagia kita sebagai umat nabi Muhammad.

Jangan jadi alasan atau contoh wanita berjilbab yang berakhlak buruk, itu wanita yang belum faham dan beriman utuh ajaran Islam. Teladanilah wanita mukminat yang berjilbab dengan kemuliaan akhlak. “Semoga sahabat wanita yang belum berjilbab suatu saat kalian atas hidayah Allah menutup aurat kalian…amin”.


Dan berikut adalah beberapa alasan mengapa wanita harus berjilbab berjilbab.

1. Tujuan hidup seorang mukmin adalah Keridhoan Allah, “Ath thooah baabur ridho” taat berjilbab itu pintu di antara pintu keridhoan Allah. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri mukminin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak mudah diganggu (QS 33:59).

2. Taat kepada Rasulullah, “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah haidh, tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja” (Muttafaqun alaihi).

3. Karena ingin selamat di akhirat, sungguh siksa pedih bagi mereka yang buka auratnya di akhirat. “Para wanita yang berpakaian tapi telanjang (tipis atau tidak menutup seluruh aurat), berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (HR. Abu Dawud)

4. Ingin amal ibadah diterima, “Tidak diterima salat perempuan yang sudah haidh (balighah) kecuali dengan menutup auratnya” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Maja)

5. Pembeda dirinya dengan yang lain dan sebagai syiar wanita mukminat (QS 33:59)

6. Selamat dari tipudaya syetan, “Maka Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya yang tertutup dari mereka yaitu auratnya ..” (QS 7:20)

7. Auratku hanya untuk yang Allah halalkan (QS 24:31)

PERBEDAAN ANTARA UJIAN DAN AZAB???

Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, bagaimana membedakan antara ujian dan azab? Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman yang tidak lalai dari keimanannya, sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut.

 

Sebaliknya bagi orang-orang yang bergelimang dosa dan kemaksiatan,  bencana atau musibah yang menimpa, itu adalah siksa atau azab dari Allah atas dosa-dosa mereka. Apabila ada orang yang hidupnya bergelimang  kejahatan dan kemaksiatan, tetapi lolos dari bencana/musibah, maka Allah sedang menyiapkan bencana yang lebih dahsyat untuknya, atau bisa jadi ini merupakan siksa atau azab yang ditangguhkan, yang kelak di akhirat-lah balasan atas segala dosa dan kejahatan serta maksiat yang dilakukannya.

Sebenarnya yang terpenting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah itu kepada kita. Untuk di ingat, jika musibah itu terjadi, disebabkan dosa-dosa kita, maka segera-lah bertobat kepada Allah. Kalau musibah yang terjadi karena ujian keimanan kita, maka kuatkan iman dan berpegang teguhlah kepada Allah. 

Siapa saja berbuat kebaikan, maka manfaatnya akan kembali kepadanya. Sedangkan siapa saja berbuat kejahatan, maka bencananya juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Bisa dibalas didunia atau di akhirat.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini : ”Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”. (QS. Al Mukmin [40] : 40).

Perhatikan juga dengan seksama firman Allah SWT berikut ini :  “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nissa [4] : 79)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah SWT. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berarti dari dirimu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri.

Berikut beberapa contoh :

  1. Musibah bisa jadi sebagai peringatan

Musibah ini diberikan kepada kaum mukmin yang merosot keimanannya. Peringatan ini karena kasih sayang Allah SWT. Misalnya seseorang yang berada dalam kesempitan rezki.  Kemudian ia bermunajat di malam hari agar Allah memberikannya keluasan rezeki. Shalat tahajud, shalat Dhuha, puasa sunah senin kamis dan perbaikan ibadah lainnya dengan semaksimal mungkin.  Hingga Allah SWT memberikan jalan keluar. Bisnisnya berkembang, karyawan bertambah, kesibukan semakin meningkat. Tapi justru dikarenakan sibuknya, satu persatu ibadah sunahnya mulai ia tinggalkan. Shalat-shalatnya pun semakin tidak khusyu’.  Seharusnya bertambahnya nikmat, membuat ia bertambah syukur dan  semakin dekat dengan Allah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, nikmat bertambah malah membuatnya semakin jauh dari Allah.

Orang ini sebenarnya sedang mengundang datangnya musibah atau azab Allah. Musibah yang datang kepadanya sebagai peringatan untuk meningkatkan kembali keimanannya yang merosot itu.  Bisa saja terjadi tiba-tiba usahanya macet dan banyak mengalami kerugian. Akibatnya ia terlilit hutang.  Dalam keadaan bangkrut tadi tidak ada yang mau menolongnya. Ketika itulah ia kembali kepada Allah untuk memohon pertolongan dengan cara memperbaiki ibadah-ibadahnya yang selama ini sudah tidak ia perhatikan lagi. Tercapailah tujuan musibah yaitu pemberi peringatan.

Musibah juga bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita. Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatikan dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)

Jadi sebenarnya, Allah SWT menurunkan musibah atau azab pada kita di dunia ini, sebagai peringatan bagi kita, untuk kembali pada kebenaran.

2        Musibah sebagai ujian keimanan

Musibah ini adalah tanda kecintaan Allah SWT  pada seseorang hamba. Semakin tinggi derajat keimanan dan kekuatan agama seseorang,  justru ujian (musibah) yang menimpanya akan semakin berat. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini :  Dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya. Ayahnya berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW,” Manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Rasulullah SAW menjawab,” Para Nabi, kemudian disusul yang derajatnya seperti mereka, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya itu kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya itu lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Senantiasa ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun.”   (HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah,berkata al-Tirmidzi: hadits hasan shahih)

Sedangkan bala atau cobaan maupun ujian juga telah disebutkan didalam Al Qur’an seperti tertulis dalam firman Allah SWT :  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya [21] : 35)

Cobaan atau ujian yang menimpa setiap orang, bisa berupa keburukan atau kebaikan, kesenangan atau kesengsaraan, sebagaimana disebutkan pula didalam firman-Nya yang lain  yaitu : “ Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali  (kepada kebenaran) (QS. Al A’raf  [7] : 168).

Sekarang coba tanyakan dengan jujur pada diri sendiri, bagaimana keimanan kita terhadap Allah SWT ? Apabila kita termasuk orang yang lalai, maka jawaban atas musibah yang menimpa, adalah sebagai azab dan peringatan atas kelalaian kita, agar kita sadar dari kelalain kita selama ini. Dan segeralah bertobat.

Dan kalau kita bukan hamba-Nya yang lalai, maka segala ujian yang terjadi menimpa kita, adalah sebagai suatu ujian, dimana dengan ujian itu, Allah telah menyiapkan tingkat keimanan yang lebih tinggi untuk kita. Seperti menjadikan kita hamba pilihan-Nya yang sabar. Dan pahala orang yang sabar sungguh tanpa batas. Seperti tertulis dalam firman-Nya : “…..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az Zumar [39] : 10)  Dengan kesabaran, akan bisa meraih ridha Allah, dan ridha Allah adalah segalanya. 

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

Mengapa Wanita Harus Memakai Jilbab?

Alasan Mengapa Wanita Harus Berjilbab. Sebelum lebih jauh mengetahui alasan kenapa wanita harus memakai jilbab, mungkin terlebih dahulu kita simak dan mengambil hikmah kisah berikut.

Mr John Parke bertanya: “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh jabat tangan denga pria?” Syaikh menjawab: “Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu Elizabeth? Lelaki Inggris menjawab: “oh tentu tidak bisa! cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan ratu”, Syaikh tersenyum dan berkata: “Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) adalah para ratu, dan ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya)”, lalu lelaki Inggris bertanya lagi, “Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?”, Syekh tersenyum dan punya dua permen, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. Dia melemparkan keduanya ke lantai yang kotor. Syaikh bertanya: “Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?”, Lelaki Inggris menjawab: “Yang tertutup”, Syeikh berkata: “itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami”. SubhanAllah bahagia kita sebagai umat nabi Muhammad.

Jangan jadi alasan atau contoh wanita berjilbab yang berakhlak buruk, itu wanita yang belum faham dan beriman utuh ajaran Islam. Teladanilah wanita mukminat yang berjilbab dengan kemuliaan akhlak. “Semoga sahabat wanita yang belum berjilbab suatu saat kalian atas hidayah Allah menutup aurat kalian…amin”.


Dan berikut adalah beberapa alasan mengapa wanita harus berjilbab berjilbab.

1. Tujuan hidup seorang mukmin adalah Keridhoan Allah, “Ath thooah baabur ridho” taat berjilbab itu pintu di antara pintu keridhoan Allah. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri mukminin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak mudah diganggu (QS 33:59).

2. Taat kepada Rasulullah, “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah haidh, tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja” (Muttafaqun alaihi).

3. Karena ingin selamat di akhirat, sungguh siksa pedih bagi mereka yang buka auratnya di akhirat. “Para wanita yang berpakaian tapi telanjang (tipis atau tidak menutup seluruh aurat), berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (HR. Abu Dawud)

4. Ingin amal ibadah diterima, “Tidak diterima salat perempuan yang sudah haidh (balighah) kecuali dengan menutup auratnya” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Maja)

5. Pembeda dirinya dengan yang lain dan sebagai syiar wanita mukminat (QS 33:59)

6. Selamat dari tipudaya syetan, “Maka Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya yang tertutup dari mereka yaitu auratnya ..” (QS 7:20)

7. Auratku hanya untuk yang Allah halalkan (QS 24:31)

Mengapa Wanita Harus Memakai Jilbab?

Alasan Mengapa Wanita Harus Berjilbab. Sebelum lebih jauh mengetahui alasan kenapa wanita harus memakai jilbab, mungkin terlebih dahulu kita simak dan mengambil hikmah kisah berikut.

Mr John Parke bertanya: “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh jabat tangan denga pria?” Syaikh menjawab: “Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu Elizabeth? Lelaki Inggris menjawab: “oh tentu tidak bisa! cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan ratu”, Syaikh tersenyum dan berkata: “Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) adalah para ratu, dan ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya)”, lalu lelaki Inggris bertanya lagi, “Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?”, Syekh tersenyum dan punya dua permen, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. Dia melemparkan keduanya ke lantai yang kotor. Syaikh bertanya: “Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?”, Lelaki Inggris menjawab: “Yang tertutup”, Syeikh berkata: “itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami”. SubhanAllah bahagia kita sebagai umat nabi Muhammad.

Jangan jadi alasan atau contoh wanita berjilbab yang berakhlak buruk, itu wanita yang belum faham dan beriman utuh ajaran Islam. Teladanilah wanita mukminat yang berjilbab dengan kemuliaan akhlak. “Semoga sahabat wanita yang belum berjilbab suatu saat kalian atas hidayah Allah menutup aurat kalian…amin”.


Dan berikut adalah beberapa alasan mengapa wanita harus berjilbab berjilbab.

1. Tujuan hidup seorang mukmin adalah Keridhoan Allah, “Ath thooah baabur ridho” taat berjilbab itu pintu di antara pintu keridhoan Allah. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri mukminin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak mudah diganggu (QS 33:59).

2. Taat kepada Rasulullah, “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah haidh, tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja” (Muttafaqun alaihi).

3. Karena ingin selamat di akhirat, sungguh siksa pedih bagi mereka yang buka auratnya di akhirat. “Para wanita yang berpakaian tapi telanjang (tipis atau tidak menutup seluruh aurat), berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (HR. Abu Dawud)

4. Ingin amal ibadah diterima, “Tidak diterima salat perempuan yang sudah haidh (balighah) kecuali dengan menutup auratnya” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Maja)

5. Pembeda dirinya dengan yang lain dan sebagai syiar wanita mukminat (QS 33:59)

6. Selamat dari tipudaya syetan, “Maka Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya yang tertutup dari mereka yaitu auratnya ..” (QS 7:20)

7. Auratku hanya untuk yang Allah halalkan (QS 24:31)

Layanan Konsumen

Follow US

NAFISA PRODUCTION

INDONESIA